September 11, 2026
Mengukur Dampak Sosial Berkelanjutan: Penerapan SROI pada Inisiatif Ketahanan Pangan Petani Lahan Kering
Tantangan perubahan iklim dan anomali cuaca ekstrem semakin nyata dirasakan [...]

Tantangan perubahan iklim dan anomali cuaca ekstrem semakin nyata dirasakan oleh komunitas petani di kawasan perbukitan karst. Di wilayah lahan kering seperti Pedukuhan Tepus, Kabupaten Gunungkidul, curah hujan yang tidak menentu dan ketergantungan tinggi pada input pertanian kimia kerap menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan hasil panen serta kesejahteraan ekonomi keluarga.
Menjawab tantangan tersebut, rangkaian program Aksi Beasiswa Inspirasi bertajuk “Ketahanan Pangan: Edukasi Adaptasi Iklim dan Inovasi Produk bagi Petani Lahan Kering” diselenggarakan secara terpadu pada 9 hingga 11 September 2026. Inisiatif ini memadukan transfer pengetahuan sains iklim praktis, inovasi teknologi tepat guna ramah lingkungan, serta penguatan manajemen keuangan rumah tangga petani.
Memahami Nilai Riil Intervensi Sosial Melalui Kerangka SROI
Dalam memastikan akuntabilitas dan efektivitas setiap program pemberdayaan, pendekatan Social Return on Investment (SROI) menjadi instrumen evaluasi yang fundamental. Berbeda dari kalkulasi finansial konvensional yang hanya melihat rasio laba moneter, metodologi SROI mengukur secara komprehensif nilai perubahan sosial, lingkungan, dan ekonomi yang dirasakan langsung oleh pemangku kepentingan per setiap rupiah dana yang diinvestasikan.
Melalui kerangka SROI, dampak intervensi pada komunitas petani Tepus dinilai secara menyeluruh melalui beberapa indikator transformasi:
- Pengurangan Biaya Input Produksi: Kemampuan mandiri dalam memproduksi pupuk organik kasgot (residu budidaya maggot) dan pakan silase fermentasi memangkas ketergantungan petani terhadap pupuk dan pakan ternak komersial hingga lebih dari 40 persen.
- Mitigasi Kerugian akibat Gagal Panen: Pemahaman mendalam mengenai pola iklim dan penentuan waktu tanam yang presisi memperkecil potensi gagal tanam di lahan tadah hujan.
- Peningkatan Nilai Tambah Limbah Organik: Sirkularitas limbah pertanian dan organik menjadi pupuk kaya nutrisi menciptakan restorasi kesuburan tanah berbatu secara alami tanpa merusak ekosistem.
- Stabilitas Finansial Rumah Tangga: Pembekalan literasi keuangan dan strategi akses pasar memastikan hasil panen dan produk peternakan memiliki daya serap pasar yang optimal dengan margin harga yang lebih adil bagi petani.
Sinergi Tiga Pilar: Iklim, Inovasi Produk, dan Literasi Finansial
Pelaksanaan kegiatan selama tiga hari menghadirkan pendekatan bertahap yang saling melengkapi. Pada hari pertama, petani diajak memahami dinamika kelembapan tanah, pergeseran musim, dan teknik konservasi air. Hari berikutnya difokuskan pada praktik langsung pengolahan biomassa dan formulasi pakan silase berkualitas tinggi untuk menjaga ketahanan pakan ternak saat musim kemarau panjang.
Rangkaian program dipuncaki pada 11 September 2026 dengan modul literasi keuangan dan penetapan strategi pemasaran terpadu, di mana para peserta dilatih mengalkulasi biaya pokok produksi, mencatat arus kas kelompok, dan mengevaluasi manfaat jangka panjang dari praktik pertanian lestari.
“Pemberdayaan sejati tidak berhenti pada pemberian bantuan sesaat, melainkan pada terciptanya kemandirian warga dalam mengelola potensi alamnya. Melalui pengukuran SROI, kita dapat membuktikan bahwa investasi sosial pada penguatan kapasitas petani lahan kering memberikan imbal balik nilai sosial dan ekonomi yang berkelanjutan bagi generasi mendatang.”
Program kolaboratif ini terwujud berkat dukungan PT Insight Investments Management (INSIGHT) yang senantiasa berkomitmen menyelaraskan investasi sosial kemasyarakatan dengan agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya dalam pengentasan kemiskinan (SDG 1), pencapaian ketahanan pangan (SDG 2), pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi (SDG 8), produksi yang bertanggung jawab (SDG 12), aksi adaptasi iklim (SDG 13), serta penguatan kemitraan strategis (SDG 17).
Salam Inspirasi!
Dokumentasi Foto Tambahan


